Warga Pematang Sawa Ujung Selatan Tanggamus Bertaruh Nyawa, Akses Darat Tak Kunjung Diperbaiki

Harian Tv
Monday, August 17, 2026, 10:05 WIB Last Updated 2026-08-17T03:05:45Z

TANGGAMUS, LAMPUNG – Kondisi akses transportasi yang memprihatinkan kembali dikeluhkan masyarakat di wilayah Pematang Sawa, bagian ujung selatan Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Warga terpaksa mempertaruhkan keselamatan saat hendak pulang ke kampung halaman maupun mengangkut kebutuhan pokok dan hasil bumi karena akses jalan darat yang hingga kini belum kunjung diperbaiki secara maksimal.


Kondisi tersebut kembali terjadi pada Minggu (16/8/2026). Sejumlah warga yang hendak menuju wilayah Limus, Tampang dan sekitarnya harus menggunakan sampan dari Pelabuhan Kotaagung untuk menuju kapal motor (taxi laut) yang menjadi salah satu sarana transportasi masyarakat.


Namun, perjalanan tersebut berubah menjadi momen menegangkan ketika sampan yang ditumpangi para penumpang diterjang gelombang cukup besar. Air laut masuk ke dalam sampan hingga membuat para penumpang panik dan barang-barang bawaan mereka basah kuyup.


Beruntung, dalam kejadian tersebut tidak ada penumpang yang dilaporkan mengalami cedera maupun tenggelam. Meski demikian, sejumlah barang milik penumpang, termasuk pakaian, telepon seluler (HP), serta perlengkapan lainnya, mengalami kerusakan akibat terkena air laut.


Salah seorang penumpang, Hamid, Kepala Pekon Tampang Muda, mengatakan seluruh penumpang sempat panik ketika sampan yang mereka tumpangi dihantam gelombang.


Menurutnya, kondisi tersebut masih relatif dapat dikendalikan karena saat gelombang menerjang, posisi sampan masih berada sekitar 20 meter dari tepian pantai.


“Semua penumpang sempat panik dan syok ketika gelombang menerjang sampan. Beruntung saat kejadian posisi kami masih berada sekitar 20 meter dari tepi pantai,” ujar Hamid.


Ia pun mengaku khawatir jika kondisi gelombang dan angin kencang terjadi ketika kapal motor sudah berada di tengah laut. Menurutnya, risiko keselamatan akan jauh lebih besar apabila masyarakat harus menyeberangi laut dalam kondisi cuaca buruk.


Kekhawatiran serupa disampaikan Helmi, salah seorang warga Pekon Tampang. Ia mengatakan kondisi tersebut bukan kali pertama dialami masyarakat. Selama bertahun-tahun, warga di wilayah tersebut harus menghadapi berbagai risiko setiap kali hendak menuju Pelabuhan Kotaagung maupun kembali ke kampung halaman.


“Memang seperti inilah yang kami alami selama bertahun-tahun. Kalau hendak pulang kampung ataupun menuju Pelabuhan Kotaagung, termasuk membawa hasil bumi dan kebutuhan pokok rumah tangga, kami harus menghadapi risiko seperti ini karena akses jalan darat belum kunjung diperbaiki,” ungkap Helmi.


Menurutnya, persoalan tersebut semakin berat ketika memasuki musim angin tenggara. Angin kencang dan gelombang tinggi kerap membuat perjalanan laut terhambat. Tidak jarang warga maupun barang yang hendak diseberangkan harus menunggu karena kondisi laut tidak memungkinkan untuk dilalui.


“Sekarang memang musim angin tenggara. Angin kencang dan gelombang besar sering terjadi. Akibatnya, warga maupun hasil bumi dan kebutuhan pokok tidak bisa diseberangkan karena kondisi ombak yang sangat besar,” katanya.


Warga berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap kondisi masyarakat di wilayah ujung selatan Tanggamus yang selama ini dinilai masih terisolasi akibat minimnya akses transportasi darat yang layak.


Mereka meminta perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Tanggamus, Pemerintah Provinsi Lampung hingga pemerintah pusat agar persoalan infrastruktur jalan segera mendapatkan solusi.


Salah satu akses yang menjadi sorotan warga adalah ruas jalan dari **Pekon Way Nipah menuju Pekon Tampang dan wilayah sekitarnya**. Kondisi jalan tersebut disebut masih sangat memprihatinkan dan belum mampu menjadi jalur transportasi yang aman serta layak bagi masyarakat.


Warga bahkan menyebut kondisi jalan saat ini tidak lebih dari sekadar jalan kecil yang sulit dilalui, sehingga transportasi laut masih menjadi pilihan utama untuk mobilitas masyarakat.


“Kami berharap pemerintah melihat penderitaan masyarakat di ujung selatan ini. Kami juga ingin merasakan pembangunan dan kemerdekaan seperti masyarakat di daerah lain,” harap Helmi.


Ia menegaskan, masyarakat di wilayah pelosok juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pembangunan infrastruktur yang layak. Terlebih, masyarakat tetap menjalankan kewajibannya sebagai warga negara, termasuk menggunakan hak pilih dalam setiap pemilihan umum.


“Kami sebagai masyarakat pelosok dan terisolasi juga punya hak suara, mulai dari tingkat bawah hingga tingkat pusat. Dulu banyak janji saat kampanye bahwa pembangunan jalan akan diperbaiki. Sekarang kami hanya ingin melihat realisasi dari janji tersebut,” tegasnya.


Warga berharap pembangunan jalan menuju wilayah Pematang Sawa, khususnya akses dari Pekon Way Nipah menuju Pekon Tampang dan sejumlah pekon lainnya, segera direalisasikan.


Mereka meminta pemerintah tidak menunggu sampai terjadi korban jiwa akibat kecelakaan di laut maupun kondisi jalan yang buruk. Sebab, bagi masyarakat di wilayah tersebut, akses transportasi bukan sekadar persoalan pembangunan, tetapi menyangkut keselamatan, perekonomian, pendidikan, kesehatan, serta keberlangsungan kehidupan sehari-hari.


“Harapan kami sederhana, tolong bangun jalan kami. Jangan sampai kami harus terus mempertaruhkan nyawa hanya untuk pulang ke kampung halaman atau membawa hasil bumi dan kebutuhan pokok,” pungkasnya.


(Solihin)

Komentar

Tampilkan